Press Release Pameran Ekskursi Wakatobi Arsitektur UI 2013

Selamat datang, 2014! Selamat membuka dan mulai mengukirkan kisah di lembaran baru.

Ngomongin tahun baru, pasti masih inget dong agenda #Ekskursi di penghujung tahun kemaren. YUP! PAMERAN! Seperti yang kalian ketahui, bahwa tahun ini, kami selaku tim #Ekskursi Wakatobi 2013 memilih untuk mempelajari tentang sebuah pemukiman Suku Bajau yang hidup di atas laut. Karena ini merupakan suatu hal yang teramat unik, maka kami menunjuk satu area, yaitu Wakatobi, Sulawesi Tenggara, sebagai area studi tempat dimana Suku Bajau Berada. Tema “Tanah Airku, Air Tanahku” merupakan tema dari  ekskursi tahun ini. Biarpun agak sedikit membingungkan dan membuat kita bertanya-tanya, “Memang apa bisa air menjadi tanah?” , maksud dari tema yang kami usung adalah merujuk pada keunikan dari Suku Bajau yang ada di Wakatobi, bahwa tanah tidak selalu menjadi tempat manusia untuk meletakkan pancang rumah mereka. Nah, di sini, di Wakatobi, kami melihat sendiri bagaimana air laut pun dapat menjadi pijakan Suku Bajau sehari-hari, tak hanya sekedar pijakan tempat untuk berteduh, bersekolah, tapi juga melakukan kegiatan sehari-hari yang biasanya kita lakukan di atas tanah.

Nah, pameran ini sendiri diadakan dua kali di dua tempat, yaitu di Perpustakaan Pusat UI dan Serambi Salihara. Pameran ini berisi tentang hasil rekaman perjalanan seru kami selama hampir 4 minggu di Wakatobi.  Di sini, ada banyak media untuk dapat menyampaikan pengalaman dan pengetahuan yang telah kami dapatkan, seperti sketsa, foto, maket, video dan buku.

DSC_3677

DSC_3655

DSC_5124

_MG_9352

DSC_3645

Wah dilihat dari jauh, berasa di museum mana gitu ya. Yuk mari mendekat…..

DSC_5090

DSC_5127

DSC_5075

DSC_5074

Seru banget ga sih pamerannya?

Di rangkaian acara utama #Ekskursi kali ini tak hanya menyediakan pameran nih. Ada agenda lain tempat kalian bisa lebih detail mempelajari tentang arsitektur Indonesia, yaitu lecture yang ada di puncak acara pameran. Lecture yang  diberikan oleh Prof. Ir. Gunawan Tjahjono M. Arch., Ph.D ini berisi tentang arsitektur vernakular terkait etnik. Wah kapan lagi gitu kan ikut lecture dari Prof. Gun? 😀

_MG_9424

_MG_9428 (1)

DSC_5158

Bagaimana? Kalian datang tidak ke pamerannya? Tidak bisa hadir? Lalu lantas menyesal?

Eits, jangan menyesal dulu. Kalian tetep bisa belajar tentang hal-hal di atas melalui buku rekaman perjalanan kami ke Wakatobi.

IMG-20140108-WA0000

IMG-20140107-WA0002

Buku Ekskursi Wakatobi 2013 “Tanah Airku, Air Tanahku” telah dilucurkan pada hari kedua pameran di Salihara.  Di hari yang sama juga dilaksanakan bedah buku oleh Marischka Pruedence, seorang mantan jurnalis Metro TV yang aktif sebagai travel blogger dan Ir. Teguh Utomo M.URP, seorang dosen Arsitektur UI.

Jadi, buat kamu yang tidak sengaja kelewatan mengikuti rangkain acara Ekskursi Waktobi 2013, jangan khawatir, kalian dapat memesan buku dokumentasi ini melalui twitter @ekskursiarsui 😉

Kami berharap rangakaian acara ini dapat menginspirasi kalian semua dalam melihat keanekaragaman nusantara yang utuh sebagai tanah air dan negeri bahari yang sangat kaya. So, jangan sia-siakan mereka, karena tugas kita adalah menjaga dan menyimpannya untuk generasi kehidupan selanjutnya.

Sampai jumpa di Ekskursi tahun depan! 🙂

Advertisements

Dari Laut Ke Laut

Suku Bajau

Yang dikenal dengan kehidupan lautnya.

Mereka tinggal di laut.

 Mencari penghidupan dari laut.

Dan kegiatan sehari-hari yang tidak jauh dari yang namanya laut.

Kami mahasiswa Arsitektur Universitas Indonesia mengadakan perjalanan ke Desa Sampela, yang merupakan tempat bermukim Suku Bajau. Desa Sampela terletak di tengah laut antara Pulau Kaledupa dengan Pulau Hoga. Karena sejak dahulu terbiasa hidup di rumah kapal yang terletak di laut,  mereka agak kesulitan jika tinggal di daratan. Hal ini membuat mereka memilih untuk membuat pemukiman di atas laut. Perbedaan pola tinggal mereka tersebut, membuat kami tertarik untuk mempelajari lebih dalam mengenai kehidupan mereka yang secara tidak langsung memperngaruhi arsitekturnya juga.

Perjalanan panjang kami dimulai pada tanggal 15 Juli 2013. Kami menuju Kendari dengan pesawat terbang, lalu menyusuri lautan yang masih bersih dengan kapal untuk sampai ke Desa Sampela. Perjalanan ini membuat kami lelah, namun terbayar sudah ketika kami tiba di Desa Sampela. Pemandangannnya, membuat kelelahan kami sirna dalam sekejap.

Satu hal lain yang membuat kami terkesan adalah keramahan penduduknya. Membuat kami betah untuk tinggal sekaligus melakukan penelitian selama 2 minggu disana. Tak sulit untuk memulai komunikasi dengan mereka. Sehingga, data-data penelitian yang kami butuhkan cukup mudah kami dapatkan dan proses penelitian tak berjalan kaku. Kami meneliti selayaknya kami berkomunikasi dengan keluarga kami sendiri.

Penduduk Desa Sampela selalu sigap dan terbuka untuk membantu proses pencarian data kami. Mereka pun juga dengan senang hati menjadi sumber pembelajaran dan sejuta pertanyaan kami tentang Desa Sampela dan Suku Bajau. Dua minggu, bukanlah waktu yang panjang untuk mendapatkan data yang lengkap. Namun kami berusaha menggunakan waktu sebijak mungkin demi mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin.

Hubungan kami yang begitu intim dengan masyarakat Desa Sampela membuat hari kepulangan kami menjadi momen yang mengharu biru. Banyak teman-teman kami disana yang memberikan surat serta barang kenang-kenangan untuk kami agar hubungan kami tidak berhenti sampai di sini saja dan tidak melupakan mereka.

Namun satu hal yang paling penting dari perjalanan panjang kami ini, adalah

Tanpa barang-barang kenangan pun, tidak akan pernah bisa terhapus semua memori pengalaman kami akan perjalanan Ekskusi Wakatobi ini.